Novel Baswedan Diteror, KPK Tak Takut

Ezra Natalyn, Fajar Ginanjar Mukti , Danar Dono , Agus Rahmat (VIVA.co.id)

Intimidasi terhadap pemberantasan korupsi kembali terjadi. Kali ini, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan disiram air keras. Serangan itu melumpuhkan Novel, meski tak berujung maut.

Novel dan tim, diketahui sedang menyidik skandal korupsi kelas kakap yang mulai menyeret nama-nama besar, korupsi Kartu Tanda Penduduk Elektronik, atau e-KTP yang merugikan negara triliunan rupiah. Tak lalu, KPK ciut mengusut tuntas kasus itu.

Di tengah gencarnya penanganan korupsi dan berbagai operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, teror keji berulang menimpa salah satu penyidik seniornya itu, Novel Baswedan.

Usai menunaikan salat Subuh pada Selasa 11 April 2017, di Masjid Al-Iksan Kawasan Pegangsaan, Kelapa Gading, Novel diadang dua pria bermotor, saat akan kembali ke rumahnya. Lantas, dia disiram air keras.

Novel yang berusaha mengelak, sempat menabrak pohon. Dia berteriak, bagian wajah dan matanya terluka. Saat dihampiri beberapa jemaah di masjid yang mendengar teriakan kesakitan, Novel sudah tumbang dengan luka bakar.

Penyidik itu, lalu dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dia sempat dirawat dengan kondisi luka di bagian wajah, tangan, dan mata yang terkena air keras, zat kimia berbahaya tersebut.

Belakangan diketahui, penglihatan Novel perlu dioperasi. Mantan polisi itu dipindahkan ke Rumah Sakit Jakarta Eye Center, Menteng. Polisi menunggu hingga kondisi Novel membaik, sebelum meminta keterangan lebih rinci lagi dari sang penyidik.

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Mochamad Iriawan menjamin bahwa polisi akan mampu meringkus pelaku penyerangan terhadap Novel. Hingga saat ini, polisi masih memeriksa saksi-saksi yang terkait dengan tempat kejadian perkara.

Pula, memeriksa CCTV yang dimungkinkan ada di sekitar lokasi pada Selasa subuh.  Sementara itu, di lokasi penyerangan Novel, ditemukan cangkir bekas berisi air keras.

“Nanti, kita akan lakukan lidik, semoga secepatnya kita bisa ungkap pelakunya. Tidak ada (target), yang penting secepatnya (mengungkap),” kata Iriawan di Kompleks Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa 11 April 2017.

Pagi saat Novel dirawat di RS Mitra Keluarga, Iriawan juga sudah menjenguk langsung. Dia datang hampir bersamaan dengan Ketua KPK Agus Rahardjo yang tiba di rumah sakit sekitar pukul 08.05 WIB. Iriawan mengatakan, sempat berbincang sedikit dengan Novel dan dijelaskan soal dua orang yang menguntit dan menyiram zat berbahaya itu.

Tak lama, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian juga merespons teror yang dialami Novel. Tito yang sedang berada di acara pengarahan siswa Sespimen Polri di Lembang, Bandung, juga mengatakan, sudah sempat berkomunikasi melalui telepon dengan Novel, yang tak lain adalah sepupu dari calon Gubernur DKI Anies Baswedan tersebut.

Polisi disebut sedang menyigi, mendalami motif sembari memburu pelakunya berdasarkan kronologi, barang bukti, dan keterangan saksi yang didapatkan.

“Sudah saya perintahkan sejak beberapa menit kejadian, anggota di sana dan mulai melakukan penyelidikan. Kapolda Metro juga sudah saya perintahkan,” kata Tito.

Simpati tak hentinya juga mengalir terhadap Novel. Mulai dari Presiden, pimpinan lembaga negara, pejabat hingga masyarakat melalui media sosial juga menyuarakan perlindungan terhadap Novel dan para penyidik KPK dengan tagar #SaveNovel.

Sementara itu, mantan Ketua KPK, Abraham Samad menilai bahwa gelogok terhadap Novel tak lain adalah perlawanan atas pemberantasan korupsi sendiri. Apalagi, kata dia, saat ini Novel tengah mengusut kasus korupsi besar e-KTP yang dikaitkan dengan sejumlah orang yang masih berada di lingkaran kekuasaan.

“Ini adalah cara yang biadab. Cara yang ingin membungkam orang yang ingin menegakkan kebenaran. Cara-cara yang ingin membungkam orang yang ingin berantas korupsi di Indonesia,” kata Abraham, usai menjenguk Novel di Kawasan Kelapa Gading, Jakarta.

Dia, karena itu meminta, agar negara dan aparatnya bisa melindungi para aktivis dan praktisi pemberantasan korupsi.

KPK Tak Takut

Presiden Joko Widodo ikut masygul dengan hal yang menimpa Novel. Dia mengutuk tindakan kriminalitas yang melukai penyidik senior KPK itu. Namun, Presiden meminta, agar teror ini tak menyurutkan gerak KPK memberantas tindak pidana korupsi di Tanah Air.

“Itu tindakan brutal yang saya mengutuk keras,” kata Presiden Jokowi di Kompleks Istana Negara.

Ditemui di tempat terpisah, Wakil Ketua KPK, Basari Panjaitan menegaskan, teror yang dialamatkan kepada Novel tak bakal membuat nyali para penyidik KPK ciut. Dia menyayangkan tindakan kejam itu terjadi. Namun, Basaria mengatakan, bahaya mau tak mau menjadi risiko tugas seorang penyidik.

“Tidak usah takut dan khawatir. Ini menjadi risiko sebagai garda terdepan pemberantasan korupsi di Indonesia,” kata Basaria, saat ditemui di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Basaria mengatakan, KPK juga tak akan berspekuLasi atas pelaku dan motif penyerangan terhadap Novel. Lembaga antirasuah percaya, polisi bisa mengungkap kasus ini. Namun, dia memastikan bahwa cideranya Novel tak akan membuat mundur KPK termasuk dalam mengusut tuntas kasus korupsi yang sedang ditangani saat ini.

Jejak Novel di Kasus-kasus Besar KPK

Nama Novel Baswedan memang cukup dikenal sebagai penyidik KPK. Sebagai bekas polisi, Novel mundur dari korps Bhayangkara untuk total berkiprah di KPK. Penyidik yang sudah bekerja di KPK sejak 2007 itu beberapa kali disebut terancam dicelakakan terkait kasus yang sedang disidiknya.

Dia disebutkan pernah sengaja ditabrak oleh mobil, saat mengendarai sepeda motor ketika berangkat ke Gedung KPK. Pada saat itu, Novel juga mengalami luka-luka meski tak fatal. Tak hanya itu, pada saat memimpin penangkapan Bupati Buol, Amran Batalipu pada Juni 2012, mobil yang ditumpangi Novel ditabrak oleh mobil yang dikendarai oleh pendukung bupati koruptor tersebut.

Tak hanya itu, pada 2014, saat sedang melakukan penyelidikan kasus e-KTP, mobil yang ditumpangi Novel terperosok ke dalam jurang, saat berada di perbatasan  Sumba, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Timur.

Novel juga pernah ditangkap penyidik Mabes Polri, tatkala menyidik kasus korupsi simulator SIM yang menjerat Irjen Pol. Djoko Susilo. Dia ditangkap dengan tuduhan terlibat pembunuhan, saat bertugas sebagai polisi di daerah.

Jejak Novel selama sepuluh tahun terakhir, tentu tak bisa diabaikan dalam penyidikan perkara-perkara besar di KPK. Selain termutakhir, kasus e-KTP, ia juga menjadi penyidik di kasus alat pendidikan di Kementerian Pendidikan yang menjerat Angelina Sondakh. Novel juga andil mengungkap kasus korupsi wisma atlet yang menyeret Politikus Demokrat Muhammad Nazaruddin.

Dia juga menyidik kasus Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) yang menjerat Politikus PAN Wa Ode Nurhayati dan Ketua Angkatan Muda Partai Golkar Fahd A.Rafiq. Pula menyidik kasus suap perkara pilkada di MK yang menggiring mantan Ketua MK Akil Mochtar ke balik jeruji.

Sengkarut Korupsi e-KTP

Gong perkara korupsi e-KTP hingga saat ini, masih terdengar keras menyusul sedang bergulirnya perkara tersebut di persidangan Tipikor, Jakarta. Sejak awal, Ketua KPK Agus Rahardjo sudah mengisyaratkan bahwa kasus ini akan menjadi tangkapan besar.

Bagaimana tidak, uang korupsi yang merugikan negara hingga Rp2,3 triliun itu diduga mengalir ke kantong banyak anggota DPR, saat proyek itu digulirkan. Pula disebut oleh sejumlah saksi dalam berita acara, uang mengucur ke partai-partai politik dan elite-elite partai di negeri ini.

Sejumlah pejabat teras berkali-kali telah diperiksa KPK, antara lain Ketua DPR Setya Novanto , Ade Komarudin, dan belasan anggota Komisi II pada periode lalu, seperti Ganjar Pranowo, Teguh Juwarno, Agun Gunandjar, Chairuman Harahap, Melchias Markus Mekeng, dan sejumlah pihak terkait. Kasus ini juga kembali menyeret terpidana korupsi, Muhammad Nazaruddin dan Anas Urbaningrum.

Tiga orang kini sudah menjadi tersangka kasus itu, ditambah Miryam S.Haryani yang menjadi tersangka yang memang bukan karena kasus itu sendiri, namun akibat memberi keterangan palsu saat diperiksa penyidik KPK.

Sementara itu, hari ini, KPK membenarkan telah mencegah Ketua DPR Setya Novanto terkait kasus korupsi e-KTP. Setya dicegah dalam kaitan pemeriksaan tersangka e-KTP, Andi Narogong. Andi disebut dekat dengan Setya dan menginisiasi pertemuan yang membahas soal pembahasan anggaran e-KTP di Grand Melia, Jakarta.

Hal tersebut diungkap dalam fakta persidangan. Setya sendiri tak menampik mengenal Andi Narogong. Namun, kata dia, hanya terkait penawaran atribut partai yang ditawarkan Andi.

Pencegahan Setya selama enam bulan tak boleh ke luar dari Indonesia itu dibenarkan oleh Juru Bicara KPK Febri Diansyah. Tak lama juga dikonfirmasi positif oleh Dirjen Imigrasi.

JK menduga-duga

Wakil Presiden Jusuf Kalla, alias JK turut angkat bicara soal teror yang menimpa penyidik KPK. JK, bahkan menduga bahwa orang yang melukai Novel adalah orang bayaran pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan kiprah Novel.

Tanpa mau menyebutkan perkara yang ditangani KPK, JK menilai bahwa pelaku adalah kaki tangan pihak yang sedang terkait korupsi besar.

“Kita tidak bisa menuduh kasus hukum mana, tetapi tentu kalau kasus hukumnya kecil, masak dia (otak penyerangan) mau celakakan orang? Pasti ini kasus hukum besar. Bayaran ini, kriminal, suruhanlah setidak-tidaknya,” kata JK di Kantor Wakil Presiden, Jakarta.

Hal ini, kata dia sebagai wujud adanya perlawanan para koruptor terhadap pemberantasan korupsi. Namun, JK yakin Novel akan segera pulih dan bisa melakukan tugasnya kembali.

“Ini, tentu memberikan kita suatu indikasi juga adanya perlawanan dari pihak-pihak yang mungkin kena kasus hukum,” kata dia.

Ketua DPR Setya Novanto juga menyesalkan peristiwa penyerangan Novel Baswedan. Dia menyatakan, tindakan tersebut jauh dari adab dan harus diusut tuntas oleh Kepolisian. Setya mengatakan, mengenal Novel sebagai pribadi yang berintegritas dan menjadi salah satu figur tulang punggung penyidikan di KPK.

“Serangan fisik yang menimpa penyidik senior KPK Novel Baswedan, bukan hanya ditujukan kepada pribadi Novel maupun institusi KPK. Namun, sebenarnya ditujukan kepada kita rakyat dan bangsa Indonesia yang saat ini berperang melawan korupsi,” kata Setya melalui siaran pers dengan tagar #SaveKPK.

Namun, Setya mengingatkan, agar tak ada spekulasi dan dugaan terlalu jauh atas kasus penyerangan ini. Dia menilai, adalah lebih baik mendorong polisi mengusut tuntas dibandingkan mendengungkan prasangka di masyarakat.

Dikutip sepenuhnya dari VIVA.co.id edisi 12 April 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: